Festival Ronthek Pacitan 2025: Suara Bambu yang Menggema Hingga Panggung Nusantara, Sejumlah Ribuan Penonton Tumplek Blek Padati di Jantung Kota

LIPUTAN7 AKTUAL, PACITAN, – Dalam gelapnya malam, dentuman bambu bersahutan dengan gamelan, menyatu dalam irama yang membangkitkan semangat dan nostalgia. Itulah suasana yang kembali menyelimuti Pacitan saat Festival Ronthek Pacitan 2025 resmi digelar. Lebih dari sekadar pesta seni, festival ini menjadi momentum kebangkitan warisan budaya yang berakar dari tradisi rakyat.

Festival Ronthek tahun ini kembali menorehkan prestasi membanggakan yaitu masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 sebuah program nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mewadahi dan mempromosikan event-event budaya unggulan dari berbagai penjuru Indonesia.

Dijadwalkan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Sabtu, 5 Juli hingga Senin, 7 Juli 2025, festival ini mengangkat tema “Pacitan Sumandhang Nugraha”, yang secara filosofis bermakna Pacitan menyambut anugerah. Tema ini dipilih untuk merefleksikan rasa syukur masyarakat terhadap pengakuan nasional serta dukungan yang terus tumbuh untuk pelestarian budaya lokal.

Acara ini dimulai dari Alun-alun Pacitan atau di depan Pendopo Kabupaten, kemudian melewati depan Perpusda Pacitan dengan melintasi pusat kota, dan berakhir di depan dealer Tanjung Pinang Motor, Jalan Jenderal Sudirman. Sepanjang satu kilometer rute itu, berbagai kelompok peserta akan mempertontonkan atraksi budaya ronthek dengan perpaduan musik, tari, dan kostum bernuansa etnik-modern.

Festival Ronthek Pacitan 2025 Penonton Antusias Melihat Hingga Padati Area Acara di Alun-Alun Pacitan

Untuk memastikan penilaian yang adil dan objektif, panitia telah menyiapkan tiga titik penjurian strategis di sepanjang jalur parade.

 

Ronthek bukan sekadar festival. Ia berasal dari budaya lama masyarakat Pacitan yaitu kegiatan ronda malam di bulan Ramadan. Nama “ronthek” sendiri merupakan singkatan dari “ronda” dan “thethek”, mengacu pada suara alat musik bambu yang dipukul untuk membangunkan warga sahur.

Alat musik ini awalnya hanyalah potongan bambu sederhana yang dilubangi dan dipukul untuk menghasilkan bunyi. Seiring berjalannya waktu, ronthek dipadukan dengan instrumen tradisional seperti gong, saron, kenong, dan gamelan, lalu dikemas menjadi pertunjukan musik khas Pacitan yang kini menjadi daya tarik pariwisata.

Kepala Disparbudpora Pacitan, Turmudi, menyampaikan optimismenya terhadap dampak ekonomi dan pariwisata dari perhelatan tahunan ini.

“Kalau semalam saja bisa 10 sampai 15 ribu penonton, tiga malam bisa mencapai 45 ribu. Ini luar biasa untuk skala kabupaten. Apalagi, penontonnya berganti-ganti setiap malam,” ujarnya saat diwawancarai wartawan pada Minggu, 6 Juli 2025.

Jumlah pengunjung yang besar ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan pedagang kaki lima, penginapan, rumah makan, dan transportasi lokal. Festival Ronthek pun kini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya.

Jadwal Penampilan Peserta Festival Ronthek 2025

Hari Pertama – Sabtu, 5 Juli 2025

1. SMA Negeri Pacitan

2. Kecamatan Punung

3. Kecamatan Donorojo

4. Kecamatan Sudimoro

5. Kecamatan Nawangan

Hari Kedua – Minggu, 6 Juli 2025

1. SMK Negeri Pacitan

2. Kecamatan Tegalombo

3. Kecamatan Ngadirojo

4. Kecamatan Bandar

5. Kecamatan Arjosari

Hari Ketiga – Senin, 7 Juli 2025

1. MA Al Anwar

2. Kecamatan Kebonagung

3. Kecamatan Pringkuku

4. Kecamatan Tulakan

5. Kecamatan Pacitan

Dengan total 15 peserta, festival ini bukan hanya kompetisi, tapi juga ajang pembuktian kecintaan masyarakat terhadap budaya sendiri. Setiap tim membawa karakter dan gaya tersendiri, memperkaya nuansa festival dengan keunikan masing-masing daerah.

Melihat antusiasme dan kualitas penyelenggaraan yang semakin meningkat setiap tahun, bukan tidak mungkin Festival Ronthek ke depan akan dikemas sebagai event berskala internasional.

“Kami berharap suatu saat bisa mengundang partisipasi budaya dari luar negeri. Atau malah menampilkan ronthek dalam festival budaya di luar negeri sebagai duta seni Pacitan,” kata Turmudi.

Festival Ronthek membuktikan bahwa tradisi yang dulu dianggap sederhana bisa menjadi kekuatan besar ketika dijaga, dikembangkan, dan dipromosikan dengan sungguh-sungguh. Dari bunyi bambu yang memecah keheningan sahur, kini Ronthek berdiri tegak di antara deretan kebanggaan budaya nasional.***

Penulis : Jefri Asmoro Diyatno

Penulis: Jefri Asmoro Diyatno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *