SURABAYA — Kabar membanggakan kembali datang dari SMAK Frateran Surabaya. Bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 SMAK Frateran Surabaya, tiga siswa kelas XII berhasil mengharumkan nama sekolah dengan meraih Juara 1 tingkat nasional dalam ajang Logistic Innovation Competition, salah satu kategori dalam kegiatan LOGISTICHAMP yang diselenggarakan Departemen Teknik Logistik Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI).
Kompetisi tersebut mengusung tema “Invisible Logistics in Disaster Response: When Every Second Counts”. Ajang ini merupakan kompetisi tingkat nasional yang diikuti peserta dari berbagai sekolah di Indonesia, sehingga persaingan untuk menjadi yang terbaik berlangsung cukup ketat.
Tim SMAK Frateran Surabaya yang berhasil keluar sebagai juara pertama terdiri dari Alvin Kenan Nasution, Gwen Josephine Liauw, dan Alfonsius Natanael Rusli, yang seluruhnya merupakan siswa dan siswi kelas XII SMAK Frateran Surabaya.
Pengumuman finalis sekaligus hasil akhir Logistic Innovation Competition disampaikan pada 13 Agustus 2026.
Prestasi tersebut menjadi kado istimewa bagi keluarga besar SMAK Frateran Surabaya karena diraih tepat pada momentum peringatan ulang tahun sekolah yang ke-63.
Kepala SMAK Frateran Surabaya, Fr. M. William Satel Sura, S.Pd., MM, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas capaian yang diraih para siswa.
“Puji Tuhan, tim kami dari SMAK Frateran Surabaya mampu keluar sebagai pemenang dengan meraih Juara 1,” ungkap Fr. M. William Satel Sura.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi prestasi akademik maupun kompetisi semata, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi para siswa dalam mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, serta keberanian untuk menghadirkan solusi terhadap persoalan nyata di masyarakat.
“Hal ini tentunya menjadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi kami. Ini juga menjadi hadiah bagi kami karena bertepatan dengan ulang tahun SMAK Frateran ke-63,” tuturnya.
Dalam kompetisi tersebut, tim SMAK Frateran Surabaya mengembangkan sebuah prototype bernama FloodLink. Inovasi tersebut dirancang sebagai sistem logistik adaptif yang ditujukan untuk membantu proses pengantaran bantuan dalam situasi bencana, khususnya ketika akses jalan terputus atau mengalami kendala akibat banjir.
Konsep FloodLink berangkat dari persoalan yang sering muncul dalam penanganan bencana.
Ketika banjir terjadi dan sejumlah jalur transportasi tidak dapat dilalui, proses distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak dapat mengalami hambatan.
Melalui inovasi yang mereka kembangkan, para siswa mencoba menghadirkan sebuah solusi yang menggabungkan pemikiran di bidang logistik dengan teknologi dan desain prototype.
Alvin, Gwen, dan Alfonsius mengungkapkan bahwa perjalanan untuk menghasilkan prototype FloodLink bukanlah hal yang mudah. Mereka harus melewati berbagai tahapan, mulai dari menentukan konsep, memilih material, hingga membuat desain prototype menggunakan SolidWorks.
“Tantangan yang kami hadapi terutama adalah menentukan material yang tepat dan mendesain prototype di SolidWorks agar tidak hanya terlihat bagus, tetapi juga bisa direalisasikan,” ujar mereka.
Bagi ketiga siswa tersebut, proses mengikuti kompetisi justru menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga.
Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan sebuah gagasan, tetapi juga harus memastikan bahwa inovasi yang dibuat memiliki dasar pemikiran dan dapat dikembangkan menjadi sebuah prototype yang realistis.
Persaingan yang dihadapi pun tidak ringan. Sebagai kompetisi tingkat nasional, Logistic Innovation Competition diikuti peserta dari berbagai sekolah di Indonesia.
Setiap tim tentunya membawa gagasan dan kreativitas masing-masing untuk menjadi yang terbaik.
“Meski persaingan cukup ketat karena diikuti peserta dari seluruh Indonesia dan melalui tahapan yang cukup melelahkan, kami senang karena bisa belajar dan berkembang sebagai tim,” ungkap mereka.
Keterbatasan waktu juga menjadi salah satu tantangan tersendiri. Namun, kondisi tersebut justru membuat ketiga siswa belajar mengatur waktu, membagi tugas, memperkuat komunikasi, serta menyelesaikan setiap tahapan secara efektif.
“Dengan waktu yang sangat terbatas, kami gunakan dengan sebaik mungkin,” kata mereka.
Dalam proses persiapan hingga penyempurnaan karya, tim juga mendapatkan pendampingan dari Christina Kustindarti, S.Pd., MM., CFP. Bimbingan dilakukan melalui komunikasi WhatsApp maupun pertemuan secara langsung.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan FloodLink. Masukan dan arahan dari pembimbing membantu para siswa mengevaluasi konsep, memperbaiki desain, serta mempersiapkan karya untuk menghadapi tahapan kompetisi.
Bagi SMAK Frateran Surabaya, prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa siswa tidak hanya didorong untuk unggul dalam bidang akademik, tetapi juga diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, kemampuan teknologi, dan pemecahan masalah.
Prestasi di tingkat nasional tersebut semakin memperkuat reputasi SMAK Frateran Surabaya sebagai sekolah yang terus mendorong peserta didiknya untuk berani mengikuti berbagai kompetisi dan menghasilkan karya yang memiliki manfaat serta relevansi dengan kebutuhan masyarakat.
Tema yang diangkat dalam Logistic Innovation Competition juga memberikan pembelajaran penting bagi para siswa mengenai peran logistik dalam situasi kebencanaan. Dalam kondisi darurat, kecepatan, ketepatan, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting agar bantuan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Melalui FloodLink, ketiga siswa SMAK Frateran Surabaya mencoba menerjemahkan persoalan tersebut ke dalam sebuah inovasi yang mereka kembangkan melalui kerja sama tim dan proses pembelajaran.
Keberhasilan Alvin, Gwen, dan Alfonsius juga mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Fr. M. William berharap prestasi tersebut tidak berhenti pada ketiga siswa yang berhasil mengukir kemenangan, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas mereka.
Ia berharap ke depan semakin banyak siswa SMAK Frateran Surabaya yang berani mengikuti kompetisi inovasi, khususnya di bidang logistik dan teknologi.
“Semoga ke depannya akan ada regenerasi dari SMAK Frateran Surabaya yang mengikuti lomba-lomba Logistic Innovation Competition dan terus mengharumkan nama sekolah,” pesan Fr. M. William.
Kemenangan tersebut menjadi semakin istimewa karena diraih tepat pada HUT ke-63 SMAK Frateran Surabaya. Juara 1 tingkat nasional Logistic Innovation Competition bukan hanya menjadi pencapaian bagi Alvin Kenan Nasution, Gwen Josephine Liauw, dan Alfonsius Natanael Rusli, tetapi juga menjadi kado manis bagi seluruh keluarga besar SMAK Frateran Surabaya.
Dengan semangat inovasi, kerja sama, dan keberanian menghadapi tantangan, prestasi tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya generasi-generasi berikutnya yang mampu membawa nama SMAK Frateran Surabaya semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Wk)












