Liputan7aktual.com MAJENE – Mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan Program Magang Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK) di wilayah kerja Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Karama. Kegiatan yang berlangsung pada 15–16 April 2026 di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang konservasi tanah dan air.
Program magang ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan survei, pengukuran, pemetaan, hingga memahami prosedur teknis yang diterapkan pada pekerjaan konservasi di lapangan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi nyata di kawasan daerah aliran sungai.
Selama pelaksanaan magang, mahasiswa melakukan pengukuran terhadap bangunan Konservasi Tanah dan Air (KTA) yang terdiri atas 70 unit Gully Plug (GP) dan 5 unit Dam Penahan (DPN) yang berada di sejumlah titik di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene.
Pengukuran dilakukan secara sistematis untuk memperoleh data teknis yang akurat sebagai dasar evaluasi kondisi bangunan. Hasil pengukuran tersebut selanjutnya akan digunakan dalam proses verifikasi guna menentukan kelayakan bangunan konservasi sesuai standar teknis yang berlaku dalam pengelolaan daerah aliran sungai.
Selain melakukan pengukuran dimensi bangunan, mahasiswa juga melaksanakan penandaan lokasi dengan memanfaatkan tanda-tanda alam sebagai acuan dalam menentukan titik maupun batas lokasi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan orientasi lapangan, ketelitian dalam mengidentifikasi objek survei, serta memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap karakteristik bentang alam dan kondisi lingkungan.
Dalam proses pengumpulan data, mahasiswa menggunakan sejumlah peralatan survei sederhana, seperti pipa paralon, meteran, dan waterpass. Sementara itu, peta sebaran bangunan Konservasi Tanah dan Air serta aplikasi Avenza Maps dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memastikan ketepatan posisi dan koordinat lokasi pengukuran sehingga hasil survei dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Bangunan Konservasi Tanah dan Air memiliki fungsi strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem daerah aliran sungai. Gully Plug dan Dam Penahan berperan mengurangi laju erosi, mengendalikan limpasan air permukaan, menahan sedimen, meningkatkan stabilitas lahan, serta mendukung rehabilitasi kawasan yang mengalami degradasi.
Keberadaan infrastruktur konservasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan sedimentasi sungai. Oleh karena itu, pengukuran dan evaluasi kondisi bangunan secara berkala menjadi langkah penting untuk memastikan fungsi konservasi tetap berjalan secara optimal.
Melalui kegiatan magang ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan metode survei, teknik pengukuran, pengolahan data lapangan, hingga penyusunan dokumentasi teknis. Pengalaman tersebut diharapkan mampu meningkatkan kompetensi akademik sekaligus membentuk kemampuan profesional yang dibutuhkan dalam dunia kerja, khususnya di bidang kehutanan, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan daerah aliran sungai.
Salah seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Muhammad Fachrul Dalif, mengatakan bahwa kegiatan lapangan memberikan pemahaman yang lebih nyata mengenai pentingnya konservasi tanah dan air dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Setiap pengukuran yang dilakukan hari ini adalah langkah nyata untuk menjaga tanah tetap lestari dan mencegah erosi bagi generasi mendatang,” ujar Fachrul.
Program Magang Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK) merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan di lapangan. Melalui kolaborasi dengan BPDAS Karama, mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami pentingnya sinergi antara dunia akademik dan instansi pemerintah dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang memiliki kompetensi akademik, keterampilan teknis, serta kepedulian terhadap pelestarian lingkungan sehingga siap berkontribusi dalam pembangunan sektor kehutanan dan konservasi sumber daya alam di Indonesia. (Muh Ruslan AS)
Editor: Redaksi Liputan 7 Aktualnews Sul-Sel
Chemal Rusanda












