Haidar Alwi: Inovasi Fiskal Menteri Keuangan Baru Bisa Jadi Motor Sektor Riil Indonesia

Jakarta liputan7aktual.com – Pendiri Haidar Alwi Care sekaligus Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, memberikan apresiasi atas langkah Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, yang berani mengalihkan dana idle pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke bank umum. Menurut Haidar, kebijakan ini merupakan inovasi fiskal yang tidak sekadar soal bunga 4 persen, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah berkomitmen menghadirkan terobosan nyata bagi rakyat dan dunia usaha.

“Kita harus mendukung keberanian Menteri Purbaya yang mencari jalan baru untuk menambah pendapatan negara. Namun, dukungan ini juga harus disertai rambu tata kelola agar manfaatnya nyata bagi sektor riil dan konstitusi tetap terjaga,” tegas Haidar Alwi, Minggu (21/9/2025).

Peluang Pendapatan Baru dan Optimisme Ekonomi

Haidar menjelaskan, strategi Purbaya membuka peluang besar bagi negara untuk mengoptimalkan dana yang selama ini hanya mengendap di BI tanpa menghasilkan imbal hasil. Dengan menempatkannya di bank umum, negara bukan hanya memperoleh tambahan pendapatan bunga, tetapi juga mengirim pesan bahwa setiap rupiah harus lebih produktif untuk kepentingan rakyat.

Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam membangun kemandirian fiskal. “Kebijakan ini adalah gebrakan yang menandai babak baru fiskal kita. Negara mendapat bunga, bank memperoleh likuiditas tambahan, dan sektor riil berpeluang lebih besar mendapatkan kredit produktif. Semua pihak mendapat energi baru,” jelas Haidar.

Dengan kapasitas fiskal yang lebih kuat, pemerintah memiliki ruang lebih luas untuk mendukung program prioritas, seperti ketahanan pangan, subsidi tepat sasaran, pembangunan infrastruktur, hingga menopang UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat.

Pentingnya Tata Kelola dan Peran BI

Meski optimis, Haidar mengingatkan pentingnya rambu tata kelola. Ia menilai bunga 4 persen harus diimbangi desain instrumen yang fleksibel agar tidak membebani perbankan.

Beberapa saran teknis yang ia tawarkan antara lain:

1. Tiered rate: bunga fleksibel, dengan porsi dana sektor produktif mendapat bunga lebih rendah.

2. Holding period jelas: dana tidak lagi on call, melainkan berjangka 3–6 bulan agar bank berani menyalurkan kredit jangka menengah.

3. Koordinasi elegan dengan BI: menjaga agar kebijakan fiskal tidak dianggap intervensi terhadap independensi bank sentral.

“Kebijakan Menteri Purbaya sudah tepat arahnya, tapi kita bantu dengan saran teknis. Kalau bunga bisa dibuat fleksibel dan tenornya jelas, maka sektor riil bisa merasakan langsung manfaatnya,” ujarnya.

Haidar juga menekankan bahwa penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) harus sesuai mekanisme APBN. DPR tetap memiliki legitimasi untuk mengawasi agar transparansi dan akuntabilitas terjaga.

Pelajaran Sejarah dan Jalan Tengah untuk Sektor Riil

Haidar menyinggung pelajaran dari sejarah, yakni Paket Oktober (Pakto 1988) yang memberi relaksasi likuiditas tanpa rambu kehati-hatian dan berujung pada krisis 1998.

“Kita jangan hanya mengulang cerita indah masa lalu, tapi harus belajar dari krisis 1998. Dengan kepemimpinan Presiden Prabowo dan keberanian Menteri Purbaya, ditambah tata kelola yang bijaksana, langkah ini bisa jadi titik balik,” tegasnya.

Agar inovasi fiskal benar-benar menyentuh sektor riil, Haidar menawarkan jalan tengah berupa:

Skema jaminan terbatas: credit guarantee untuk UMKM agar bank lebih berani menyalurkan pembiayaan.

Pilot project terbatas: Rp10–20 triliun di klaster ekonomi tertentu sebelum diperluas nasional.

Pengawasan lintas lembaga:

Kemenkeu, BI, OJK, dan BPKP bekerja bersama mencegah moral hazard.

Fokus pada target riil: indikator utama adalah jumlah kredit produktif tersalur, tenaga kerja terserap, serta UMKM yang naik kelas.

Optimisme Kebangkitan Ekonomi

Haidar menegaskan bahwa inovasi fiskal ini adalah langkah berani yang harus didukung penuh. Namun dukungan tersebut harus diwujudkan dalam tata kelola yang jelas, mekanisme pengawasan kuat, serta komitmen politik yang konsisten.

“Negara perlu menambah pendapatan, rakyat perlu kredit murah, dan semua itu bisa dicapai bila pemerintah, DPR, BI, dan perbankan bekerja dalam semangat yang sama. Itulah arah kebijakan baru ini, itulah jalan kebangkitan kita,” pungkas Haidar Alwi.

 

TimRed Tanggamus:

Suhardi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *