Bukan Sekadar Gebyar Kemerdekaan, Rano Alfath Dorong Kesejahteraan dan Masa Depan Keluarga Ojol

KAB TANGERANG, Liptan7aktual.com – Di balik hiruk-pikuk jalan raya dan aktivitas pengantaran pesanan, para pengemudi ojek online menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat. Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun dimanfaatkan Wakil Ketua Komisi III DPR RI, H. Moh. Rano Alfath, S.H., M.H., untuk menyapa sekaligus mendengar langsung suara para “pejuang jalanan” tersebut.

Sekitar 1.500 pengemudi ojol menghadiri Gebyar Kemerdekaan yang digelar Rano di kawasan Taman Makam Pahlawan Arya Wangsakara, Kampung Lengkong Ulama, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Minggu (16/8/2026).

Berbeda dari perayaan kemerdekaan yang identik dengan panggung hiburan dan perlombaan, kegiatan kali ini dikemas dengan sejumlah program yang menyasar kebutuhan langsung para pengemudi. Mulai dari tebus murah sembako, ganti oli gratis, makanan gratis dari UMKM, hingga pengundian hadiah.

Tiga unit sepeda motor disiapkan sebagai hadiah utama. Sejumlah hadiah lainnya seperti televisi, mesin cuci, kipas angin, rice cooker, setrika listrik, power bank, dan kebutuhan rumah tangga juga dibagikan kepada peserta.

Bagi Rano, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Perayaan kemerdekaan menurutnya harus mampu menyentuh masyarakat yang setiap hari bekerja keras untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

“Bagi saya, sahabat-sahabat ojol adalah pejuang nafkah keluarga. Mereka setiap hari menghadapi panas, hujan, kemacetan, bahkan risiko kecelakaan di jalan,” ujar Rano.

Dari makam pahlawan ke jalan raya

Ada pesan simbolik yang sengaja dibangun dalam kegiatan tersebut. Sebelum bertemu ribuan pengemudi ojol, Rano bersama istrinya terlebih dahulu berziarah ke makam Raden Arya Wangsakara.

Prosesi penghormatan dilakukan melalui pengalungan kain batik khas Banten, pemasangan ikat kepala dan pengalungan bunga.

Ziarah itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang. Namun, menurut Rano, perjuangan tidak berhenti pada masa lalu. Di masa kini, masyarakat juga memiliki perjuangannya masing-masing.

Salah satunya adalah para pengemudi ojol yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk menghidupi keluarga.

Karena itu, Rano menilai perhatian terhadap kelompok pekerja tersebut harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang konkret, bukan hanya perayaan sesaat.

Solidaritas justru menjadi pesan utama

Di tengah kegiatan, perhatian Rano justru tertuju pada sikap para pengemudi yang saling membantu.

Ia mengaku tersentuh ketika menemukan peserta yang bersedia memberikan kesempatan atau bantuan yang diterimanya kepada rekan yang dianggap lebih membutuhkan.

“Kekompakan sahabat-sahabat ojol sungguh luar biasa. Mereka saling mendukung dan sangat suportif satu sama lain,” katanya.

Menurut Rano, sikap tersebut menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih kuat di tengah komunitas ojol.

“Mereka sama-sama bekerja keras dan menghadapi tantangan yang tidak ringan, tetapi masih memikirkan kondisi rekannya. Ini adalah teladan tentang persaudaraan dan keikhlasan,” lanjutnya.

Selain membangun kebersamaan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan sejumlah isu strategis yang berkaitan dengan masa depan pengemudi ojol.

Dari pendapatan hingga pendidikan anak

Rano menyampaikan salam dari Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar kepada para pengemudi ojol.

Ia juga membawa pesan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengenai perjuangan untuk menciptakan pembagian pendapatan yang dinilai lebih adil bagi pengemudi.

Salah satu aspirasi yang disebut Rano adalah dorongan agar pengemudi dapat memperoleh porsi pendapatan hingga 92 persen dari perjalanan.

“Beliau menyampaikan komitmennya untuk ikut memperjuangkan agar sahabat-sahabat ojol memperoleh porsi pendapatan yang lebih adil,” kata Rano.

Tak berhenti pada persoalan pendapatan, perhatian juga diarahkan pada masa depan keluarga para pengemudi.

Dalam sambungan video call, Sufmi Dasco Ahmad turut menyapa para peserta dan membahas peluang akses program beasiswa bagi anak-anak pengemudi ojol.

Bagi Rano, pendidikan anak menjadi investasi jangka panjang yang tidak boleh terabaikan hanya karena orang tuanya bekerja di sektor informal.

“Orang tuanya sudah berjuang keras di jalan, maka kita juga harus ikut memperjuangkan agar anak-anak mereka dapat belajar, tumbuh, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Seremonial harus berujung kebijakan

Rano menegaskan, kedekatan dengan komunitas ojol tidak boleh berhenti pada kegiatan perayaan.

Menurutnya, berbagai aspirasi yang muncul dari komunitas harus dikawal melalui dialog antara DPR, pemerintah, perusahaan aplikasi dan para pengemudi.

“Silaturahmi hari ini harus dilanjutkan dengan perjuangan kebijakan yang konkret. Mereka membutuhkan perlindungan, kepastian, dan hubungan kemitraan yang lebih adil,” tegasnya.

Selain program tebus murah sembako, kegiatan juga diisi dengan Apel Siaga Ambulans MRA sebagai bentuk pelayanan sosial dan kesiapsiagaan kemanusiaan.

Bagi para pengemudi yang setiap hari berada di jalan, momentum tersebut menjadi lebih dari sekadar mendapatkan sembako murah atau mengikuti undian hadiah. Mereka mendapat ruang untuk berkumpul, saling menguatkan dan menyampaikan aspirasi.

Di tengah perayaan HUT RI ke-81, pesan yang muncul pun menjadi sederhana: kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga memastikan mereka yang berjuang mencari nafkah hari ini tidak berjalan sendirian.

Editor: Erwin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *