LIPUTAN7 AKTUAL, PACITAN, – Kondisi infrastruktur jalan lingkungan di Lingkungan Kampung Baru, Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan, kembali menuai sorotan warga. Ruas jalan yang berada di RT 02/RW 02 Dusun Suruhan dan RT 07/RW 01 Dusun Ngemplak tersebut kerap tergenang air setiap kali hujan turun, bahkan menyerupai banjir skala kecil. Persoalan ini bukan sekadar soal genangan musiman, melainkan cerminan dari belum optimalnya perencanaan dan pembangunan drainase di kawasan yang kini memiliki fungsi vital bagi masyarakat.
Setiap hujan mengguyur, air dari area persawahan di sekitar lokasi langsung mengalir ke badan jalan. Ketiadaan saluran drainase membuat air tidak memiliki jalur pembuangan, sehingga mengendap dan menutup permukaan jalan dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya, jalan menjadi licin, berlubang, dan sulit dilalui, terutama oleh pengendara sepeda motor dan pejalan kaki.
Dalam beberapa kesempatan, ketinggian air genangan dilaporkan mencapai mata kaki orang dewasa. Kondisi ini jelas membahayakan, terlebih saat hujan turun pada malam hari dengan jarak pandang yang terbatas. Tak jarang, kendaraan harus melambat atau bahkan berhenti karena khawatir terperosok ke lubang jalan yang tertutup air.
Padahal, ruas jalan tersebut memiliki peran strategis bagi aktivitas masyarakat. Selain menjadi jalur utama warga Kampung Baru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, jalan ini juga merupakan akses penting menuju Rumah Sakit Umum Medical Mandiri Pacitan serta SDIT Ar-Rahmah. Setiap hari, pegawai rumah sakit, pasien, keluarga pasien, guru, orang tua siswa, hingga masyarakat umum menggantungkan mobilitasnya pada jalan tersebut.
Seiring berdirinya fasilitas layanan kesehatan dan pendidikan di sekitar lokasi, intensitas lalu lintas di ruas jalan ini meningkat tajam. Jalan yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai akses lingkungan kini bertransformasi menjadi jalur dengan mobilitas tinggi. Ironisnya, peningkatan fungsi dan beban jalan tersebut tidak diiringi dengan peningkatan kualitas infrastruktur yang memadai.
Kerusakan jalan yang berpadu dengan genangan air menciptakan risiko berlapis. Selain meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas, kondisi ini juga mempercepat degradasi lapisan aspal. Air yang menggenang dalam waktu lama meresap ke struktur jalan, menyebabkan aspal mudah mengelupas dan membentuk lubang-lubang baru. Dalam jangka panjang, kerusakan ini justru akan membutuhkan biaya perbaikan yang lebih besar.
Tak hanya itu, warga yang rumahnya berada di sisi jalan juga mengaku khawatir. Genangan air yang terus berulang dikhawatirkan dapat merembet ke pekarangan bahkan ke dalam rumah, terutama saat curah hujan tinggi berlangsung dalam durasi lama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lingkungan, seperti meningkatnya risiko penyakit berbasis air dan berkembangnya sarang nyamuk.
Sunardi, salah satu warga Kampung Baru, mengungkapkan bahwa persoalan genangan air dan kerusakan jalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini, belum ada penanganan serius yang benar-benar menyentuh akar masalah.
“Setiap hujan pasti tergenang karena memang tidak ada saluran air. Jalan jadi licin, rusak, dan berbahaya. Kami khawatir airnya lama-lama bisa masuk ke rumah,” ujarnya saat ditemui wartawan, pada Senin, 19 Januari 2025.
Menurut Sunardi, keluhan warga sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan secara lisan, baik kepada perangkat lingkungan maupun dalam forum-forum informal warga. Namun, hingga saat ini, perubahan nyata belum juga dirasakan.
Ia menegaskan bahwa warga tidak menuntut pembangunan yang berlebihan atau proyek besar yang menguras anggaran desa. Yang mereka harapkan hanyalah perhatian dan langkah konkret dari pemerintah desa agar masalah tidak terus berlarut-larut.
“Yang kami minta itu sederhana. Dibangunkan drainase supaya air tidak menggenang, lalu jalannya diperbaiki. Jangan dibiarkan terus sampai kerusakannya makin parah atau sampai ada warga yang celaka,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang setiap hari melintasi jalan tersebut. Beberapa pengendara motor mengaku harus ekstra hati-hati, terutama saat membawa anak atau melintas pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari.
“Kalau hujan, kami sering tidak tahu mana jalan yang berlubang karena tertutup air. Pernah ada yang hampir jatuh,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ruas jalan tersebut berstatus sebagai jalan desa yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Desa Sirnoboyo. Artinya, perencanaan dan pembangunan drainase maupun perbaikan jalan semestinya dapat diusulkan melalui mekanisme perencanaan desa, seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes).
Namun hingga kini, belum terlihat adanya pekerjaan fisik, papan proyek, maupun kejelasan rencana penanganan dari pemerintah desa atau instansi terkait. Kondisi ini memunculkan tanda tanya di kalangan warga, mengingat fungsi strategis jalan tersebut bagi layanan publik.
Sejumlah warga menilai, persoalan ini seharusnya bisa menjadi prioritas, mengingat keberadaan rumah sakit dan sekolah di sekitar lokasi. Infrastruktur yang buruk dinilai tidak sejalan dengan upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pendidikan.
“Percuma punya rumah sakit dan sekolah bagus kalau akses jalannya seperti ini. Ini soal kenyamanan dan keselamatan banyak orang,” ujar seorang warga lainnya.
Warga Kampung Baru berharap pemerintah desa bersama pihak terkait dapat segera turun tangan melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Mereka mendesak adanya solusi jangka pendek berupa normalisasi aliran air, serta solusi jangka panjang berupa pembangunan drainase permanen dan perbaikan struktur jalan.
Lebih dari sekadar keluhan, kondisi ini menjadi cermin pentingnya perencanaan pembangunan yang berbasis pada perubahan fungsi wilayah. Jalan lingkungan yang berubah menjadi akses vital seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas infrastruktur agar mampu menopang aktivitas masyarakat secara aman dan berkelanjutan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Sirnoboyo terkait rencana penanganan jalan tersebut. Warga pun berharap, suara mereka tidak sekadar menjadi catatan keluhan, melainkan benar-benar ditindaklanjuti demi kepentingan bersama.***
Penulis : Jefri Asmoro Diyatno












